Suatu siang, ku buka kulkas. Ku liat ada kue brownies dalam kotak bertuliskan “Holland Bakery”.
Walau
aku tidak pernah makan ataupun membelinya, tetapi aku tahu kalau roti atau kue
dari “Holland Bakery” pasti mahal karena merk terkenal dan mungkin juga karena mutu
dan kualitasnya yang enak.
Aku
ingin sekali mencicipinya. Biar aku dianggap pernah makan kue “Holland Bakery”.
Aku
teringat kalau jika aku potong saat jam makan siang, maka semua saudaraku akan
melihatnya dan tertarik untuk mencicipinya. Dan apabila masing-masing potong
kue itu menurut ukurannya sendiri, tentu tidak semua saudara akan kebagian
karena ada yang potong ukuran besar dan ada yang potong ukuran kecil.
Muncullah
ideku untuk memotong habis kue itu supaya langsung habis terbagi saat itu juga
dan biar semua saudara ada kesempatan untuk turut mencoba ‘kue mahal dan
berkualitas’ ini. Saat hendak memotong, aku berucap kata-kata, “Atas asas keadilan
sama rata sama rasa, maka ku potong kue ini supaya semua saudara punya
kesempatan untuk mencicipinya”.
Namun,
saat hampir selesai ku potong, ada seorang saudara berdiri di sampingku dan
menyelutuk “Ko, mending simpan aja di meja, biar masing-masing saudara
memotongnya sesuai dengan selera, karena tidak semua saudara mau makan.”
Aku
tertegun dan diam sejenak sambil memandang saudara lain yang turut melihatku
memotong kue itu.
Saudara
yang lain itu berucap, “Gapapa, potong aja, langsung bagikan semua, karena
kalau masing-masing yang potong, pasti ga semua orang dapat bagian. Kalau
bagikan begini kan, entah cukup atau tak cukup, ya urusan masing-masing meja”.
Aku
menambahkan “Sama. Aku pun setuju. Intinya semua orang bisa turut mencicipi.
Comot-comot saja pun boleh. Biar lain kali kalau ditanya, kita bisa bilang uda
pernah makan kue “Holland Bakery”.”
Kue
pun dibagikan. Memang tampak ada saudara yang langsung mengambil potongan
besar. Ada yang hanya mencomot saja, yang penting tahu rasa. Dan ada juga yang
tidak makan sama sekali dengan alasan kenyang atau sudah makan nasi.
Aku
berkata dalam hati, “Bersyukurlah yang sempat memakannya. Jangan salahkan siapa-siapa,
kalau tidak kebagian. Karena niat awalku begitu biar semua pernah mendapat
kesempatan untuk merasakan. Terlepas dari ia mengambil kesempatan itu atau
tidak”.
Refleksi:
Hidup dalam persaudaraan memang tidak selalu menuntut harus ‘sama rata sama
rasa’, karena yang terpenting adalah keperluan dan kebutuhan masing-masing
saudara yang berbeda dan tidak bisa disamakan, walaupun kadang kala harus bisa
karena dipaksa atau terpaksa. Namun, bagiku ada hal-hal tertentu yang harus ‘sama
rata sama rasa’. Tujuannya untuk membantu mengendalikan hasrat dan keinginan
untuk selalu mau lebih, tidak ingin berbagi, melatih empati, solider, dan tidak
peduli dengan orang lain.
Semoga
Tuhan memandang niatku 😊
Tidak ada komentar:
Posting Komentar