Entri Populer

Kamis, 11 September 2025

SAMA RATA SAMA RASA

 Suatu siang, ku buka kulkas. Ku liat ada kue brownies dalam kotak bertuliskan “Holland Bakery”.

Walau aku tidak pernah makan ataupun membelinya, tetapi aku tahu kalau roti atau kue dari “Holland Bakery” pasti mahal karena merk terkenal dan mungkin juga karena mutu dan kualitasnya yang enak.

Aku ingin sekali mencicipinya. Biar aku dianggap pernah makan kue “Holland Bakery”.

Aku teringat kalau jika aku potong saat jam makan siang, maka semua saudaraku akan melihatnya dan tertarik untuk mencicipinya. Dan apabila masing-masing potong kue itu menurut ukurannya sendiri, tentu tidak semua saudara akan kebagian karena ada yang potong ukuran besar dan ada yang potong ukuran kecil.

Muncullah ideku untuk memotong habis kue itu supaya langsung habis terbagi saat itu juga dan biar semua saudara ada kesempatan untuk turut mencoba ‘kue mahal dan berkualitas’ ini. Saat hendak memotong, aku berucap kata-kata, “Atas asas keadilan sama rata sama rasa, maka ku potong kue ini supaya semua saudara punya kesempatan untuk mencicipinya”.

Namun, saat hampir selesai ku potong, ada seorang saudara berdiri di sampingku dan menyelutuk “Ko, mending simpan aja di meja, biar masing-masing saudara memotongnya sesuai dengan selera, karena tidak semua saudara mau makan.”

Aku tertegun dan diam sejenak sambil memandang saudara lain yang turut melihatku memotong kue itu.

Saudara yang lain itu berucap, “Gapapa, potong aja, langsung bagikan semua, karena kalau masing-masing yang potong, pasti ga semua orang dapat bagian. Kalau bagikan begini kan, entah cukup atau tak cukup, ya urusan masing-masing meja”.

Aku menambahkan “Sama. Aku pun setuju. Intinya semua orang bisa turut mencicipi. Comot-comot saja pun boleh. Biar lain kali kalau ditanya, kita bisa bilang uda pernah makan kue “Holland Bakery”.”

Kue pun dibagikan. Memang tampak ada saudara yang langsung mengambil potongan besar. Ada yang hanya mencomot saja, yang penting tahu rasa. Dan ada juga yang tidak makan sama sekali dengan alasan kenyang atau sudah makan nasi.

Aku berkata dalam hati, “Bersyukurlah yang sempat memakannya. Jangan salahkan siapa-siapa, kalau tidak kebagian. Karena niat awalku begitu biar semua pernah mendapat kesempatan untuk merasakan. Terlepas dari ia mengambil kesempatan itu atau tidak”.

Refleksi: Hidup dalam persaudaraan memang tidak selalu menuntut harus ‘sama rata sama rasa’, karena yang terpenting adalah keperluan dan kebutuhan masing-masing saudara yang berbeda dan tidak bisa disamakan, walaupun kadang kala harus bisa karena dipaksa atau terpaksa. Namun, bagiku ada hal-hal tertentu yang harus ‘sama rata sama rasa’. Tujuannya untuk membantu mengendalikan hasrat dan keinginan untuk selalu mau lebih, tidak ingin berbagi, melatih empati, solider, dan tidak peduli dengan orang lain.

Semoga Tuhan memandang niatku 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar