Entri Populer

Sabtu, 22 Januari 2022

Boleh Minta Baksonya, Gak?

Saat pertama kali masuk ruang makan, seperti biasa aku akan menatap pada papan tulis (whiteboard) terlebih dahulu sebelum menuju meja makan. Biasanya ada pengumuman mengenai kegiatan kami pada hari itu. Namun di papan tertulis "bakso 6 biji/orang". Saya sumringah membaca pengumuman itu sebab ada menu bakso. Menu yang kembali tersaji di meja makan setelah tidak pernah tersaji lagi selama kurang lebih 6 bulanan terakhir ini.

Aku pun mengisi piring makan dengan bakso sesuai dengan jatah yang telah ditentukan untuk masing-masing orang yakni 6 biji. Begitu pun saudara-saudara yang semeja makan denganku. Kebetulan ada saudara yang tidak hadir di meja makan entah karena alasan apa, yang pasti ada bakso lebih yang masih tersisa dalam mangkok. Biasanya itu adalah urusan masing-masing meja untuk menghabiskannya atau membagikan ke meja makan lain bila tidak dihabiskan.

Namun tak lama seusai kami mengambil jatah masing-masing, datanglah seorang saudara yang lain sambil membawa mangkok dan berkata, "Boleh minta baksonya, gak?" Aku pun menjawab masih ada anggota meja kami yang belum datang, mana tahu ia datang maka akan kekurangan bila kami memberikan kepadanya. Namun saudara itu menambahi, "Sebiji atau dua biji pun boleh lah." Aku bergeming. Saudara semeja ku yang lain memutuskan untuk memberi bakso dalam mangkok itu kepadanya. Usai meminta dari meja kami, ia tetap beralih ke meja lain dan masih mencoba meminta kepada yang lain.

Jawabanku kepadanya sejujurnya hanyalah alasan agar ia tidak mengambil bakso yang ada di meja makan kami dan berharap ia segera kembali ke tempatnya. Ini bukanlah aku pelit dan tidak ingin berbagi soal makanan. Saya pun mengerti kalau menu bakso adalah menu yang sangat langka untuk kami. Mungkin juga ia memang gemar makan bakso jadi ketika ada menu itu, ia ingin memuaskan hasratnya. Tetapi aku juga ingin ia sadar dan merasa cukup dengan apa yang telah disediakan atau dijatahkan baginya.

Kalau pun memang kepengen sekali, ia bisa memintanya beberapa menit atau saat orang mulai tampak selesai makan namun jam makan belum berakhir (lonceng belum dibunyikan). Aku rasa itu akan tampak lebih elok daripada meminta saat jam makan baru mulai. Saat belum semua hadir dan saat orang masih sedang menikmatinya.

Merasa cukup atas apa yang telah ada dan tersaji (soal makanan) adalah sebuah sikap dan rasa yang perlu tertanam dalam diri. Sebab semua itu tersaji sudah dengan jatah masing-masing. Mengambil jatah milik orang lain adalah tetaplah tidak buruk apalagi dengan alasan 'sayang bila tidak habis' atau 'sayang kalau terbuang percuma' namun tetap harus memerhatikan waktu yang tepat dan menghormati privasi atau hak orang lain.

Soal makan terkadang seolah tidak pernah ada cukupnya, tetapi soal kerja atau doa selalu saja ada alasan untuk berkata 'cukup' atau malah tidak hadir sama sekali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar