Hari ini aku semakin paham bahwa tidak semua niat baik kita akan dihargai dengan baik.
Entri Populer
-
“Cintailah pekerjaan anda, maka pekerjaan pun akan mencintai anda”. Itulah sebuah ungkapan yang pernah saya baca. Dan kata-kata itupun seol...
-
Seringkali aku mendapat banyak inspirasi dan ide yang aku dapatkan dalam kehidupan sehari-hari baik itu dari kehidupan sosial (kerja di kan...
-
Suatu siang, ku buka kulkas. Ku liat ada kue brownies dalam kotak bertuliskan “Holland Bakery”. Walau aku tidak pernah makan ataupun mem...
-
Judul kali ini yaitu "And I named it "ALPHA"". Mengapa demikian? Saya mengambil kata "ALPHA", karena "A...
-
Beberapa saat yang lalu, aku sudah pernah mendengar tentang adanya RUU baru yang berbunyi "pasangan yang ingin check-in di hotel mesti...
-
Suatu pagi, aku menerima pesan dari seorang umat yang minta didoakan agar turun hujan ditempat tinggalnya. Aku menyanggupi dan mendoakan sec...
-
Pada suatu sabtu sore, aku yang sehabis bersihkan kamar, sikat WC, dan cuci pakaian, berjalan ke luar unit mencari udara segar. Tak berapa l...
-
Saat pertama kali masuk ruang makan, seperti biasa aku akan menatap pada papan tulis (whiteboard) terlebih dahulu sebelum menuju meja makan....
Sabtu, 13 Desember 2025
Penting Cuek
Kamis, 18 September 2025
Gara-gara Bubur
Setiap kami makan, menu disaji dalam 4 tempat. Karena mie instan adalah makanan favorit semua makhluk. Maka, hadirnya mie instan di meja makan selalu ditunggu dan menjadi bahan rebutan kala sudah tersaji.
Orang yang paling dekat dengan makanan memiliki kesempatan
untuk ambil terlebih dahulu, termasuk besaran porsi. Maka, tak heran apabila
orang yang depan makanan cenderung mengambil banyak sementara yang jauh dari
sumber makanan, hanya dapat sedikit (mungkin hanya kuahnya saja).
Pagi ini di meja makan juga kondisi kurang lebih serupa. Saat
mangkok mie sampai ke hadapanku, isinya memang tinggal sedikit. Aku yang sudah
ambil bubur sisa semalam pun hanya mengambil mie dalam satu cedokan. Dan teman
di samping juga yang sudah mengambil bubur, memutuskan tidak ambil mie.
Aku dengan santainya celetuk, “Merajuk karena tidak dapat
mie”
Ku pikir biasa rupanya, ia menjawab dengan penuh emosi.
Aku kaget akan reaksinya memilih diam daripada semakin
memperkeruh suasana.
Pelajaran yang bisa ku petik adalah Pertama, lebih berhati-hati
ketika bercanda dengan orang terutama di pagi hari. Karena mood atau kondisi
orang di pagi hari sulit ditebak. Kedua, pastikan orang yang kamu ajak bercanda
adalah orang yang biasa bercanda sama kamu, supaya ia paham kalau kamu sedang dalam
mode bercanda.
Kamis, 11 September 2025
SAMA RATA SAMA RASA
Suatu siang, ku buka kulkas. Ku liat ada kue brownies dalam kotak bertuliskan “Holland Bakery”.
Walau
aku tidak pernah makan ataupun membelinya, tetapi aku tahu kalau roti atau kue
dari “Holland Bakery” pasti mahal karena merk terkenal dan mungkin juga karena mutu
dan kualitasnya yang enak.
Aku
ingin sekali mencicipinya. Biar aku dianggap pernah makan kue “Holland Bakery”.
Aku
teringat kalau jika aku potong saat jam makan siang, maka semua saudaraku akan
melihatnya dan tertarik untuk mencicipinya. Dan apabila masing-masing potong
kue itu menurut ukurannya sendiri, tentu tidak semua saudara akan kebagian
karena ada yang potong ukuran besar dan ada yang potong ukuran kecil.
Muncullah
ideku untuk memotong habis kue itu supaya langsung habis terbagi saat itu juga
dan biar semua saudara ada kesempatan untuk turut mencoba ‘kue mahal dan
berkualitas’ ini. Saat hendak memotong, aku berucap kata-kata, “Atas asas keadilan
sama rata sama rasa, maka ku potong kue ini supaya semua saudara punya
kesempatan untuk mencicipinya”.
Namun,
saat hampir selesai ku potong, ada seorang saudara berdiri di sampingku dan
menyelutuk “Ko, mending simpan aja di meja, biar masing-masing saudara
memotongnya sesuai dengan selera, karena tidak semua saudara mau makan.”
Aku
tertegun dan diam sejenak sambil memandang saudara lain yang turut melihatku
memotong kue itu.
Saudara
yang lain itu berucap, “Gapapa, potong aja, langsung bagikan semua, karena
kalau masing-masing yang potong, pasti ga semua orang dapat bagian. Kalau
bagikan begini kan, entah cukup atau tak cukup, ya urusan masing-masing meja”.
Aku
menambahkan “Sama. Aku pun setuju. Intinya semua orang bisa turut mencicipi.
Comot-comot saja pun boleh. Biar lain kali kalau ditanya, kita bisa bilang uda
pernah makan kue “Holland Bakery”.”
Kue
pun dibagikan. Memang tampak ada saudara yang langsung mengambil potongan
besar. Ada yang hanya mencomot saja, yang penting tahu rasa. Dan ada juga yang
tidak makan sama sekali dengan alasan kenyang atau sudah makan nasi.
Aku
berkata dalam hati, “Bersyukurlah yang sempat memakannya. Jangan salahkan siapa-siapa,
kalau tidak kebagian. Karena niat awalku begitu biar semua pernah mendapat
kesempatan untuk merasakan. Terlepas dari ia mengambil kesempatan itu atau
tidak”.
Refleksi:
Hidup dalam persaudaraan memang tidak selalu menuntut harus ‘sama rata sama
rasa’, karena yang terpenting adalah keperluan dan kebutuhan masing-masing
saudara yang berbeda dan tidak bisa disamakan, walaupun kadang kala harus bisa
karena dipaksa atau terpaksa. Namun, bagiku ada hal-hal tertentu yang harus ‘sama
rata sama rasa’. Tujuannya untuk membantu mengendalikan hasrat dan keinginan
untuk selalu mau lebih, tidak ingin berbagi, melatih empati, solider, dan tidak
peduli dengan orang lain.
Semoga
Tuhan memandang niatku 😊