Makaroni adalah makanan yang berasal dari Italia. Nama aslinya adalah maccheroni. Harga makaroni mentah menurutku tidak mahal-mahal amat. Tetapi jadi mahal setelah diolah dengan dicampur keju, kacang polong, dan daging sapi. Dan lebih mahal lagi bila dijual di restoran.
Sayangnya, tidak setiap orang mau dan suka makan makaroni. Aku juga tidak tahu penyebab pastinya. Tetapi berdasarkan pengalamanku bertanya kepada teman-teman yang kurang menyukainya, aku dapat menyampaikan setidaknya dua alasan. Pertama, atas dasar makanan pokok orang Indonesia adalah nasi. Karena nasi sebagai makanan pokok dan menu utama dalam setiap kali makan, maka isi perut yang mampu membuat kenyang adalah nasi, bukan yang lain. Kedua, tekstur makaroni yang kenyal (lengket setelah dimasak ala pasta) bila masuk mulut, sedangkan nasi memiliki tekstur lebih padat. Hal itu telah memengaruhi selera makan.
Diantara dua alasan di atas, aku ingin membahas lebih lanjut alasan pertama. "Belum makan nasi, belum sah", begitulah ungkapan yang sering ku dengar dari teman-temanku. Meski makanan pokok orang Indonesia dalam beberapa tempat dan kondisi pun ada yang berupa singkong, kentang, sagu, dan lain-lain. Bahkan dalam beberapa kesempatan ahli kesehatan juga mulai sosialisasi untuk mengurangi nasi dan mengalihkannya ke makanan pokok yang lain dengan alasan kesehatan. Sebab menurut penelitian, kandungan gula dalam nasi lebih tinggi dibanding singkong dan kentang, maka khusus para penderita diabetes seringkali disarankan untuk mengonsumsi kentang dibanding nasi. Namun tetap saja, nasi juga yang dicari.
Selain yang disebut tadi, ada juga makanan yang juga memiliki kandungan karbohidrat setara nasi yang juga cukup digemari orang Indonesia yaitu mie!
Nah, mungkin kita sudah lazim melihat orang makan mie campur nasi. Beberapa ahli atau pakar gizi bahkan mengatakan itu double carbo, artinya ada dua kali kandungan karbohidrat dalam dua jenis makanan yang berbeda namun dikonsumsi secara bersamaan. Mungkin juga dalam kondisi tertentu, ada yang ingin hemat, seperti masak satu bungkus mie dicampur nasi dan itu dimakan untuk beberapa orang.
Kali ini begitu di tempatku, Siang itu, salah satu menu makan siang yang terhidang di meja makan kami adalah makaroni. Ini pertama kalinya makaroni terhidang di meja makan kami dalam bentuk pasta. Biasanya-lebih tepatnya jarang- makaroni hanya sebagai bahan campuran dalam sup.
Makaroni yang dimasak ala pasta disajikan sebagai lauk, bukan menu utama. jadi ya makanlah kami semua dengan nasi dicampur dengan makaroni. Sebenarnya aku merasa aneh dengan campuran menu begitu, tetapi karena sudah tersaji dan mengobati rindu makan makaroni ala pasta itu ya sudah ku makan saja "dengan lahapnya".
Namun ada hal yang tak kusangka, ternyata memang benar anggapan yang ku bilang tadi "tidak semua mau dan suka makan makaroni". Buktinya seusai makan, makaroni masih bersisa cukup banyak. Padahal dalam pikiranku itu kan makanan olahan yang bila dinilai dari segi harga, cukup mahal.
Walaupun demikian, aku tidak ingin mengatakan kalau mereka tidak menghargai karena mereka pun mungkin tidak tahu harga sebuah menu. Selain itu, kalau memang sudah tidak suka ya apalagi yang harus dipaksakan :')
Tidak ada komentar:
Posting Komentar